Berita Desa Sambimulyo | 18 September 2026

Facebook Facebook Twitter #Berita - Umum


Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengelolaan Biopori Di Desa Sambimulyo


Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengelolaan Biopori Di Desa Sambimulyo

#Berita - Umum

Jumat, 18 September 2026 | Pengelolaan lingkungan merupakan bagian penting dalam menciptakan lingkungan permukiman yang sehat dan berkelanjutan. Salah satu persoalan yang masih sering dijumpai pada lingkungan masyarakat adalah pengelolaan sampah rumah tangga yang belum optimal. Sampah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari memiliki karakteristik yang beragam sehingga diperlukan pemilahan sejak dari sumbernya. Pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah menegaskan bahwa pengelolaan sampah perlu dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir serta melibatkan peran masyarakat.

Sampah rumah tangga dapat dikelompokkan menjadi sampah organik dan anorganik. Sampah organik yang berasal dari aktivitas dapur, seperti sisa sayuran, kulit buah dan bahan organik lainnya, memiliki karakteristik yang mudah terurai sehingga dapat dimanfaatkan kembali. Namun, apabila sampah organik tidak dikelola dengan baik, keberadaannya dapat menimbulkan persoalan lingkungan. Yulianto (2023) menunjukkan bahwa sampah organik rumah tangga merupakan salah satu persoalan yang perlu mendapatkan perhatian melalui edukasi dan praktik pengelolaan sampah. Kegiatan edukasi yang dilakukan melalui observasi, penyampaian materi, praktik dan monitoring dapat membantu masyarakat memahami pengelolaan sampah organik dan penerapan lubang biopori.

Salah satu alternatif teknologi sederhana yang dapat digunakan dalam pengelolaan lingkungan adalah lubang resapan biopori. Lubang resapan biopori dapat berfungsi sebagai salah satu jalur masuk air ke dalam tanah sekaligus dapat dimanfaatkan untuk memasukkan bahan organik. Fathurrohman (2023) menjelaskan bahwa lubang resapan biopori merupakan teknologi sederhana yang relatif murah dan tidak membutuhkan lahan yang luas. Penerapannya dapat menjadi salah satu alternatif untuk menghadapi persoalan berkurangnya daerah resapan, genangan air dan pengelolaan sampah organik pada tingkat masyarakat.

Pemanfaatan biopori memiliki keunggulan karena menggabungkan dua fungsi pengelolaan lingkungan. Pertama, lubang biopori dapat membantu meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah. Kedua, lubang tersebut dapat dimanfaatkan sebagai tempat memasukkan sampah organik sehingga bahan organik dapat mengalami proses penguraian. Dalam kegiatan di Desa Jayabakti yang dilakukan oleh Fathurrohman, lubang biopori diisi dengan bahan organik seperti daun, sampah dapur, ranting dan bahan organik lainnya. Kegiatan tersebut dijadikan sebagai salah satu upaya menghadapi genangan sekaligus memanfaatkan sampah organik.

Penggunaan biopori dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat juga telah diterapkan di berbagai wilayah. Pratiwi (2025) melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui biopori di Tiyuh Pulung Kencana, Lampung. Kegiatan tersebut meliputi sosialisasi mengenai manfaat biopori dan demonstrasi pembuatan lubang biopori. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat berdasarkan hasil pre-test dan post-test serta terbentuknya enam lubang biopori percontohan. Penelitian tersebut juga menekankan pentingnya monitoring secara berkelanjutan dan dukungan pemerintah setempat agar manfaat program dapat dipertahankan.

Temuan dari kegiatan pengabdian terdahulu memperlihatkan bahwa keberhasilan penerapan biopori tidak hanya ditentukan oleh pembuatan lubang, tetapi juga oleh proses edukasi dan keterlibatan masyarakat. Pada kegiatan di Desa Margasari oleh Yulianto (2023), misalnya, sosialisasi mengenai pembuatan dan manfaat lubang resapan biopori dilakukan sebagai respons terhadap persoalan penumpukan sampah, genangan air dan pengelolaan daerah resapan air. Hal tersebut menunjukkan bahwa penerapan teknologi sederhana perlu disertai dengan peningkatan pengetahuan masyarakat agar teknologi dapat dimanfaatkan secara tepat.

Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan pengabdian melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sambimulyo diarahkan pada pemberdayaan ibu-ibu PKK melalui edukasi pemilahan sampah dan penerapan biopori. Kegiatan dilaksanakan di RW 04 Desa Sambimulyo dengan melibatkan 50 peserta ibu-ibu PKK setempat. Kegiatan tidak hanya memberikan penyuluhan mengenai pemilahan sampah, tetapi juga menjelaskan jenis sampah organik yang dapat digunakan sebagai bahan biopori, tata cara pembuatan dan pemasangan biopori serta memberikan kesempatan kepada peserta untuk melakukan praktik secara langsung.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam memilah sampah, khususnya sampah organik dari dapur serta memperkenalkan pemanfaatannya melalui lubang biopori. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan melalui penerapan teknologi sederhana yang dapat dilakukan secara mandiri di lingkungan tempat tinggal.


HASIL DAN PEMBAHASAN

Pelaksanaan Kegiatan Pemberdayaan

Kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan biopori dilaksanakan pada 18 Agustus 2026 di RW 04 Desa Sambimulyo. Kegiatan diikuti oleh 50 peserta yang merupakan ibu-ibu PKK Desa Sambimulyo. Pemilihan ibu-ibu PKK sebagai sasaran kegiatan memiliki relevansi dengan pengelolaan sampah rumah tangga karena aktivitas rumah tangga, khususnya kegiatan dapur, menghasilkan sampah organik secara rutin.

Kegiatan dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu penyuluhan pemilahan sampah, penjelasan mengenai bahan organik yang dapat digunakan dalam biopori, demonstrasi pembuatan dan pemasangan biopori serta praktik langsung. Sebanyak 15 lubang biopori dibuat dan dipasang di lokasi kegiatan.

Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat sebagai peserta sekaligus pelaku kegiatan. Pola ini penting dalam kegiatan pemberdayaan karena tujuan kegiatan bukan hanya menghasilkan sarana fisik berupa lubang biopori, tetapi juga memberikan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan kembali oleh masyarakat.

Pola kegiatan tersebut sejalan dengan kegiatan pengabdian Yulianto (2023), yang menggabungkan edukasi, praktik dan monitoring dalam pengelolaan sampah organik dan pembuatan biopori. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya memperoleh materi mengenai sampah organik, tetapi juga mendapatkan pengalaman melalui praktik pengelolaan sampah organik dan pembuatan lubang biopori.


Penyuluhan Pemilahan Sampah 

Tahap pertama kegiatan adalah penyuluhan mengenai pemilahan sampah. Peserta diberikan pemahaman mengenai perbedaan sampah organik dan anorganik serta pentingnya melakukan pemilahan sejak dari sumbernya.

Materi penyuluhan secara khusus menekankan bahwa sampah organik dari dapur dapat dimanfaatkan sebagai bahan dalam biopori. Sampah seperti sisa sayuran, kulit buah dan bahan organik rumah tangga lainnya dapat dimasukkan ke dalam lubang biopori untuk mengalami proses penguraian.

Penyuluhan mengenai pemilahan sampah menjadi penting karena penerapan biopori membutuhkan bahan organik yang sesuai. Apabila sampah organik tercampur dengan sampah anorganik, proses pemanfaatannya menjadi kurang efektif. Oleh karena itu, pemilahan sampah di tingkat rumah tangga menjadi tahap awal yang mendukung keberhasilan pengelolaan biopori.

Yulianto (2023) menunjukkan bahwa sebelum mendapatkan edukasi, masyarakat yang menjadi sasaran kegiatan belum memahami pengelolaan sampah dengan baik. Setelah dilakukan pelatihan, masyarakat memperoleh pemahaman mengenai pengelolaan sampah organik dan biopori. Hal tersebut menunjukkan bahwa edukasi dapat menjadi tahap awal yang penting dalam perubahan pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan lingkungan.

Dalam konteks kegiatan di Desa Sambimulyo, penyuluhan tersebut diarahkan untuk membangun pemahaman praktis bahwa sampah organik rumah tangga tidak selalu harus dibuang, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari proses pengelolaan lingkungan.


Pengenalan Fungsi dan Manfaat Biopori

Setelah materi pemilahan sampah, peserta diberikan penjelasan mengenai fungsi dan manfaat biopori. Biopori diperkenalkan sebagai salah satu teknologi sederhana yang dapat mendukung resapan air dan pengelolaan sampah organik.

Fathurrohman (2023) menjelaskan bahwa lubang resapan biopori merupakan teknologi sederhana yang murah dan tidak membutuhkan lahan yang luas. Teknologi tersebut dapat digunakan dalam konteks masyarakat yang menghadapi persoalan berkurangnya daerah resapan dan pengelolaan sampah organik.

Penjelasan tersebut menjadi dasar bagi peserta untuk memahami bahwa pembuatan biopori bukan sekadar kegiatan membuat lubang di tanah. Biopori merupakan bagian dari pengelolaan lingkungan yang menghubungkan fungsi resapan air dengan pemanfaatan bahan organik.

Dalam kegiatan di Desa Sambimulyo, pemahaman tersebut disampaikan sebelum peserta melakukan praktik sehingga peserta mengetahui tujuan dari setiap tahapan yang dilakukan.


Demonstrasi Pembuatan dan Pemasangan Biopori 

Tahap berikutnya adalah demonstrasi pembuatan dan pemasangan biopori. Demonstrasi dilakukan oleh tim pelaksana untuk memberikan contoh secara langsung kepada peserta.

Demonstrasi mencakup penjelasan mengenai penentuan lokasi, proses pembuatan lubang, pemasangan media biopori serta pemanfaatannya untuk sampah organik. Peserta diberikan kesempatan untuk memperhatikan setiap tahapan dan mengajukan pertanyaan mengenai proses yang belum dipahami.

Metode demonstrasi dipilih karena materi mengenai biopori memiliki aspek keterampilan yang lebih mudah dipahami apabila peserta dapat melihat secara langsung proses pelaksanaannya. Dengan demikian, penyampaian informasi tidak hanya bersifat teoritis, tetapi disertai contoh nyata.

Pendekatan serupa digunakan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat di Tiyuh Pulung Kencana. Pratiwi (2025) memberikan sosialisasi mengenai biopori yang dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan lubang biopori. Kegiatan tersebut menunjukkan respons positif masyarakat dan peningkatan pengetahuan berdasarkan evaluasi sebelum dan sesudah kegiatan.


Praktik Pembuatan dan Pemasangan 15 Lubang Biopori

Setelah demonstrasi, peserta mengikuti praktik langsung pembuatan dan pemasangan biopori. Praktik dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan peserta dan tim pelaksana.

Sebanyak 15 lubang biopori berhasil dibuat dan dipasang di RW 04 Desa Sambimulyo. Kegiatan praktik menjadi tahap penting karena peserta memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan materi yang sebelumnya telah disampaikan.

Keterlibatan peserta dalam praktik menunjukkan bahwa kegiatan pemberdayaan tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Peserta juga diberikan kesempatan untuk memperoleh keterampilan praktis mengenai pembuatan dan pemasangan biopori.

Penerapan praktik langsung tersebut memiliki kesesuaian dengan kegiatan di Desa Jayabakti, Sukabumi sebagaimana dilakukan oleh Fathurrohman, yang melibatkan masyarakat dalam pembuatan lubang resapan biopori secara gotong royong. Pada kegiatan tersebut, lubang biopori dipasang pada titik yang telah ditentukan melalui survei lokasi dan kemudian dimanfaatkan dengan memasukkan bahan organik seperti daun dan sampah dapur.

Perbedaan kegiatan di Desa Sambimulyo terletak pada sasaran kegiatan yang secara khusus melibatkan ibu-ibu PKK. Pelibatan kelompok tersebut memberikan peluang agar pengetahuan mengenai pemilahan sampah dan pemanfaatan sampah dapur melalui biopori dapat diterapkan dalam aktivitas rumah tangga.


Pemanfaatan Sampah Organik dari Dapur

Salah satu hasil penting dari kegiatan adalah pemahaman peserta mengenai jenis sampah yang dapat digunakan sebagai bahan biopori. Peserta diarahkan untuk memanfaatkan sampah organik yang berasal dari dapur.

Pemanfaatan sampah organik dari dapur memberikan alternatif pengelolaan sampah pada tingkat rumah tangga. Sisa sayuran, kulit buah, dan bahan organik lainnya yang mudah terurai dapat dimanfaatkan dalam biopori. Dengan cara tersebut, sampah organik tidak langsung bercampur dengan sampah anorganik.

Kegiatan ini memperlihatkan adanya hubungan antara pemilahan sampah dan pemanfaatan biopori. Biopori akan lebih mudah dimanfaatkan apabila masyarakat telah memiliki kebiasaan memilah sampah. Oleh karena itu, edukasi pemilahan sampah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari program biopori.

Temuan tersebut sejalan dengan Fathurrohman (2023), yang mengaitkan penerapan biopori dengan pengelolaan sampah organik rumah tangga. Dalam kegiatan di Desa Margasari, sampah organik menjadi salah satu persoalan yang melatarbelakangi penerapan lubang resapan biopori.


Biopori sebagai Pendukung Resapan Air

Selain pengelolaan sampah organik, biopori memiliki fungsi sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan resapan air. Lubang yang dibuat pada tanah dapat menjadi jalur masuk air sehingga sebagian air hujan dapat meresap ke dalam tanah.

Namun, penerapan biopori tidak dapat dipandang sebagai satu-satunya solusi terhadap persoalan genangan. Biopori merupakan salah satu bagian dari pengelolaan lingkungan yang perlu didukung dengan kebersihan saluran air, pengelolaan sampah, dan pemeliharaan lingkungan secara keseluruhan.

Fathurrohman (2023) mengaitkan penerapan biopori dengan persoalan berkurangnya daerah resapan dan genangan air. Sementara itu, kegiatan di Desa Jayabakti menerapkan biopori pada titik-titik yang telah ditentukan berdasarkan kondisi lokasi dan persoalan genangan.

Dengan demikian, 15 lubang biopori yang dibuat di RW 04 Desa Sambimulyo dapat dipandang sebagai salah satu bentuk intervensi sederhana dalam mendukung pengelolaan air dan lingkungan. Penilaian terhadap seberapa besar peningkatan infiltrasi atau pengurangan genangan belum dilakukan secara kuantitatif dalam kegiatan ini, sehingga manfaat tersebut dalam artikel ini diposisikan sebagai fungsi dan potensi biopori berdasarkan literatur, bukan sebagai hasil pengukuran lapangan.


Partisipasi Masyarakat dan Keberlanjutan Program

Partisipasi masyarakat menjadi salah satu unsur penting dalam kegiatan ini. Sebanyak 50 ibu PKK terlibat dalam rangkaian kegiatan mulai dari penyuluhan hingga praktik pembuatan dan pemasangan biopori.

Keterlibatan masyarakat memiliki arti penting karena keberlanjutan program lingkungan sangat bergantung pada kemampuan masyarakat untuk menerapkan pengetahuan setelah kegiatan selesai. Program yang hanya menghasilkan sarana fisik tanpa perubahan perilaku akan memiliki risiko tidak berkelanjutan.

Pratiwi (2025) menekankan pentingnya monitoring masyarakat dan dukungan pemerintah setempat dalam mempertahankan penerapan biopori. Kegiatan mereka menghasilkan enam lubang biopori percontohan dan memperoleh respons positif masyarakat yang menunjukkan ketertarikan untuk meningkatkan penerapan teknologi tersebut.

Berdasarkan pengalaman tersebut, keberlanjutan kegiatan di Desa Sambimulyo dapat diarahkan pada dua hal. Pertama, pemeliharaan 15 lubang biopori yang telah dibuat. Kedua, penerapan kebiasaan memilah sampah organik dari dapur agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Dengan demikian, keberhasilan kegiatan tidak hanya diukur dari 50 peserta dan 15 lubang biopori yang dihasilkan, tetapi juga dari peluang terbentuknya kebiasaan baru dalam pemilahan dan pengelolaan sampah organik di lingkungan rumah tangga.


Penyusun: Mahasiswa KKN Kolaborasi PPuN UAD x Jember Unit I.B1


#pesonasambimulyo.com #pesonasambimulyo #pemdessambimulyo



Bagikan berita :

Facebook Facebook Twitter #Berita - Umum




Papan Informasi

Maps Kantor Desa



Informasi Lainnya

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo

informasi desa sambimulyo